Skip to main content

Featured

Ancika | Dia yang Bersamaku Tahun 1995 | II

<< Sebelumnya Bab I - Aku BAB II Bertemu Dilan 1     Di bulan Juni tahun 1995, saya ikut bimbingan belajar (bimbel) yang lokasinya di daerah jalan Dipatiukur. Jadwal belajarnya tiap hari Rabu dan Sabtu, yang dimulai dari pukul 15:00 sampai pukul 17:00.       Di sana, saya mulai mengenal Bagas, Ipul dan Iksan. Mereka sering terlihat bertiga. Datang ke tempat bimbel bertiga, pulangnya juga bertiga, menggunakan mobil Bagas. Saya sempat bertanya-tanya apakah mereka memang sudah ditakdirkan untuk selalu bersama? Ternyata ketiganya, sekolah di tempat yang sama, yaitu di salah satu SMA Negeri yang ada di daerah Buah Batu.       Dua bulan kemudian, hal yang saya sadari adalah saya menjadi akrab dengan mereka. Sampai saat itu saya bahkan pernah pergi bersama mereka ke acara try out menggunakan mobil Bagas. Pulangnya makan pecel lele di warung pinggir jalan yang ada di daerah jalan Dipatiukur.    “Kamu asli Bandung, ya?” Tanya Iksan dengan mulut mengunyah makanan. Sikunya bersandar di atas

Ancika | Dia yang Bersamaku Tahun 1995 | I

I




(masih proses editing)


BAB I
Aku


1

    Saya bertemu dengan Dilan secara tidak sengaja di pertengahan tahun 1995, di mana pada awalnya saya berpikir dia sedikit mabuk karena berbicara sangat konyol. Dia juga aneh, kata-katanya mengagetkan, perilakunya cenderung menjengkelkan, bahkan seperti orang yang mengerikan ketika itu terjadi. 

    Tentu saja, saya tidak langsung menyukainya, tapi kemudian, secara bertahap, tumbuh menjadi teman baik saya, dan berkembang ke arah konflik antara perasaan romantis dan perasaan persahabatan. Hanya butuh waktu untuk menjawabnya, kemudian semuanya terasa sempurna.

    Begitulah cara saya bertemu dengan Dilan. 

    Dilan yang saya maksud adalah orang yang sama yang pernah diceritakan oleh Milea Adnan Hussain di dalam buku “Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1990” dan “Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1991”.

    Tapi, sebelum saya menceritakannya lebih jauh, saya merasa perlu menyampaikan beberapa rangkaian peristiwa yang mengiringinya, sekaligus untuk sedikit bisa menjelaskan siapa saya dan bagaimana kepribadian saya berinteraksi dengan kepribadian orang lain.

    Katanya, informasi latar belakang, yang berhubungan langsung dengan cerita, itu cukup penting, meskipun sebetulnya saya lebih suka tanpa informasi latar belakang, tetapi saya dapat memahami bahwa ada orang lain yang mungkin menginginkannya.

2

    Baiklah, kalau begitu. 

  Perkenalkan, nama saya Ancika Mehrunisa Rabu, lahir dan tumbuh di kota Bandung. Seratus persen saya seorang perempuan. Oh. Ibu saya lebih suka melihat saya berambut panjang terurai, tapi, di SMP, saya memotong rambut saya sangat pendek, hanya karena ingin praktis, sehingga kalau ada badai besar apa pun, saya tidak perlu khawatir rambut saya akan menjadi berantakan. 

    Saya suka membaca. Buku komik, novel, majalah, atau apa saja. Saya juga suka bermain-main dan memanjat pohon di masa kanak-kanak. Saya menikmati hiking, atau berkemah. Mengendarai sepeda BMX milik adik saya, keliling kompleks perumahan. Itu menyenangkan. Atau melukis wajah adik saya menggunakan lipstik sehingga menjadi lucu seperti badut. 

    Di masa kecil, saya mengalami fase ikut kegiatan tae kwondo dan bermain sepak bola bersama anak laki- laki di halaman kosong seberang rumah. Ide saya untuk berdandan adalah mengenakan kaos, celana jins, jaket atau kemeja.

    Kalau saya harus jujur, meskipun seolah-olah semua perilaku saya sesuai dengan peran gender yang dikaitkan dengan laki-laki. Namun saya juga melakukan banyak hal yang sifatnya feminim. Saya memasak, dan saya bersih-bersih. Membuat kue dan sedikit memakai make up, tetapi hal-hal itu biasanya saya lakukan ala kadarnya atau seperti hanya mencoba menyesuaikan diri. Kadang-kadang saya juga bisa menjadi begitu pendiam.

    Saya tidak tahu. Saya memiliki beberapa sifat, minat, dan keterampilan yang cukup maskulin, Bahkan sejak usia muda, entah mengapa, saya seperti ingin menjadi tangguh. Ini sedikit sulit dijelaskan. Maksud saya, rasanya seperti tidak ada apa pun di dunia ini yang dapat membuat saya menangis. 

    Saya juga tidak akan pernah membiarkan siapa pun yang mengganggu atau mengintimidasi saya. Waktu saya masih SD, saya pernah menampar Si Dicky Ugon, teman sekelas. Sebetulnya secara pribadi saya tidak suka konsep menyakiti orang lain, tapi si Ugon itu brengsek. Dia sudah berani menarik rambut saya dari belakang. Dia menangis dan mengancam akan lapor ke kakaknya. 

    Saya menjawab, “Bawa semua keluargamu ke sini!” 

    Kemudian dia mengkerut seperti berandal kecil yang menyedihkan. Sejak itu dia tidak pernah mengganggu saya lagi. 

    Selain si Dicky, ada si Rudi Acul. Dia teman saya satu kelas di SMP. Saya tonjok matanya karena berani mengangkat rok saya dari belakang pada jam istirahat. Maksud saya dia benar-benar kurang ajar. Kami berkelahi di dekat pintu kelas sampai akhirnya guru datang, menghentikan perkelahian. Saya mohon maaf jika terdengar bodoh, tetapi saya benar-benar ingin memberinya pelajaran. Akhirnya kami berdua diskors selama dua hari, meskipun sebetulnya saya tidak pernah mencari pertengkaran.

3

    Tahun 1994, saya mulai bersekolah di salah satu SMA yang ada di daerah Kiaracondong, berjarak sekitar setengah jam perjalanan dari rumah. Lokasinya kira-kira seratus meter dari jalan raya utama, sehingga setelah saya turun dari angkot, saya masih harus berjalan kaki menuju gedung sekolah. 

    Saya tahu, sungguh keterlaluan bagi seorang anak harus bersekolah selama delapan jam. Tapi saya harus fokus belajar sebagai bagian dari rencana saya ingin meraih rangking pertama di kelas -seperti yang selama ini saya peroleh, dan juga untuk meraih cita-cita saya yang ingin melanjutkan pendidikan setinggi mungkin, sama seperti siapa pun yang mencoba ingin mencapai tujuan di dalam hidupnya.

    Lagipula, sekolah itu menyenangkan, saya mengenal banyak orang, dan mereka juga sepertinya mengenal saya. Saya bisa bergaul dengan seluruh kelas dan menjadi sangat terikat dengan mereka melalui hal-hal yang kami lakukan bersama. 

    Saya sering ngobrol dengan mereka, baik saat makan di kantin atau saat sedang berkumpul di tempat lain, bahkan saya bisa dikatakan seperti orang yang selalu membuat komentar jenaka saat berkumpul dengan mereka. Meskipun saya tidak pernah menjadi yang paling vokal atau berisik, terkadang mereka mendengar kata-kata saya. Ya, saya menerima mereka sebagai mereka dan mereka menerima saya sebagai saya, walau sebenarnya saya tidak peduli jika seseorang tidak menyukai saya.

    Itu adalah sosialisasi yang bagus dan sudah cukup bagi saya. Saya tidak pernah repot-repot ingin memiliki banyak kontak di luar sekolah. Entah bagaimana, saya selalu merasa sangat sulit untuk membuat kontak baru dengan seseorang di luar sekolah, apalagi kalau harus menjalin pertemanan, rasanya seperti tidak punya alasan untuk melakukannya. Apalagi saya adalah tipe orang yang langsung menutup diri jika bertemu orang baru. Saya hanya akan terbiasa dengan seseorang jika sudah bertemu beberapa kali dengannya. 

    Di sekolah, saya punya teman dekat yang saya miliki sejak SMP. Dia adalah Indri Artatih, saat itu rumahnya di daerah Sekelimus. Saya menganggap dia lebih sebagai teman sebangku daripada sebagai saingan di dalam meraih ranking pertama di kelas. 

    Indri selalu menjadi bagian dari pergi menghabiskan hari berkeliaran ke tempat-tempat nongkrong bersama saya dan ngobrol di sana sampai kehabisan makanan dan air minum. Ya, saya suka menghabiskan waktu dengan teman-teman dan bersenang-senang pergi keluar, anggaplah sebagai refreshing, setelah lelah menghabiskan waktu belajar selama seminggu. 

4

    Di masa itu juga, saya mengenal Bono. Dia bukan benar-benar teman saya. Dia hanya satu sekolah dengan saya, tapi beda jurusan. Orang-orang mengenalnya sebagai anak nakal. Saya kira, maksud saya, dia bukan tipe anak baik-baik. Suka bolos, suka berantem dan pernah ditangkap polisi gara-gara menyerang SMA lain. Pihak sekolah sempat memberi sanksi atas semua perilaku buruknya itu tapi dia tidak pernah berubah. Bono malah berhasil mempertahankan pengikutnya yang banyak dan vokal. Mereka biasanya nongkrong di warung Mang Uja, yaitu sebuah warung makan yang lokasinya berada di antara jalan menuju ke sekolah dan jalan Kiaracondong.  

    Kata Indri - entah info dari mana, Bono suka mabuk-mabukan dan terlibat di dalam obat-obatan, ugal-ugalan mengendarai sepeda motor, gonta-ganti pacar, dan banyak hal lain mengerikan yang telah dia lakukan. Ketika Indri mengatakannya, saya tidak pernah memikirkannya dengan serius. Saya tidak tertarik dengan urusan pribadinya, tapi menurut saya, cukup bodoh untuk remaja masuk ke dalam situasi seperti itu karena akan membuat hidup mereka berantakan.

    Herannya, meskipun begitu, Bono sering kali menjadi pilihan romantis yang disukai oleh beberapa gadis di sekolah, entah karena apa? Salah satunya mungkin karena Bono menarik secara fisik, tetapi saya benar-benar tidak melihat daya tarik yang sama seperti yang dilakukan oleh mereka yang suka kepadanya. 

    Itulah Bono. Sebetulnya pada saat awal-awal saya mengenalnya, saya masih mau bercakap-cakap dengan dia, tetapi kemudian dia mulai sering menggoda saya, atau sesuatu seperti itu dan melakukan gerakan-gerakan nyata yang menunjukan dia tertarik ke saya dengan cara berlebihan yang membuat saya merasa terganggu dan tidak nyaman.

    Pernah di suatu hari, sekitar jam 12 siang, pada saat saya mau keluar dari gerbang sekolah bersama Indri, saya melihat ada Bono, mengenakan jaket jeans dan hanya tampak seperti pengganggu. Dia duduk di atas motornya dengan mesin yang masih hidup. Tidak tahu mau apa, posisi motornya melintang seperti sengaja memblokir jalan saya. 

    Saya langsung bisa mengatasinya dengan cepat, “Minggir,’ kata saya, datar, tanpa memandang si Bono. Ini mungkin masalah kecil bagi beberapa orang, tetapi saya merasa itu sangat menjengkelkan. Bono tetap diam, mengabaikan perintah saya dan berusaha sekuat tenaga untuk mengubah wajahnya menjadi senyuman.

    Saya tidak suka dibuat merasa bodoh, kemudian memandangnya, “Kalau enggak minggir, aku tendang!” 

    Saya serius, dan benar-benar akan melakukannya. Bono tersenyum, memundurkan motornya, sambil ngomong, “Mau dianter pulang, gak?” 

    “Nanti aja, ” jawab saya sambil terus jalan bareng Indri, meskipun sebetulnya saya tidak ingin menanggapinya sama sekali. 

    “Kapan?” Tanya Bono, di mana saat itu sepeda motornya sudah mulai jalan melambat di samping saya.

    “Tahun dua ribu sembilan lima!” jawab saya dengan nada serius tanpa memandangnya.

    Itu membuatnya tertawa, dengan tawa kaget, tapi saya yakin dia kesal.

    “Ah, tahun segitu mah, kamunya udah nenek-nenek!” kata dia. 

    Dia mengatakannya dengan penekanan yang sangat aneh sehingga membuat saya sedikit tertawa.

    “Kamunya juga udah kakek-kakek!” Jawab saya.

    Bono ketawa lagi, lalu bilang, dengan nada mendesak, “Hayu, mau gak?” 

    “Saya bilang, nanti, ” jawab saya, tanpa memandangnya.

    “Jangan nolak rizki!”

    “Saya bukan nolak rizki, saya nolak Bono!”

    Bono ketawa.

    “Ya udah!” Kata Bono, lalu pergi. Kayaknya dia kecewa. Ya, syukurlah.  

    Beberapa saat setelah Bono berlalu, Indri ketawa ngakak dan saya ikut tertawa. 

    “Kamu berani, ih!” kata Indri. 

    “Kenapa emang?”

    “Dia, kan, geng motor!”

    “Gak takut!”

    Saya benar-benar tidak takut si Bono, meskipun dia anak geng motor. 

    Di mata saya, anak geng motor itu, cuma anak-anak berandalan yang menyedihkan dan bodoh. Pengganggu, yang tidak punya pikiran, sekaligus juga manusia yang malang. 

    Saya tentu bersalah menghakimi orang, maksud saya mungkin tidak semua anak geng motor seperti Bono. Tapi saya akan melakukan apa yang harus saya lakukan untuk melawannya selama saya benar. 

    Setelah saya dan Indri sampai di tepi jalan Kiaracondong, untuk menunggu angkot di depan warung rokok, dekat karung goni besar yang ditumpuk di pinggir jalan, saya mendengar ada orang memanggil nama saya dari warung Mang Uja:

    “Cika!”

    Saya menoleh ke arah suara itu dan melihat ada banyak anak berseragam SMA sedang berkumpul.

    “Setuju! Tahun dua ribu sembilan lima hahaha!” kata orang itu, melanjutkan. 

    Saya hanya tersenyum, tanpa menoleh.  

    Malamnya Bono menelepon saya dan benar-benar menyeramkan pada saat itu terjadi. Bono bilang ingin mengajari saya mengendarai sepeda motor, lalu mulai menggoda saya tentang banyak hal. Saat itu saya tidak bisa berhenti memikirkan betapa gilanya apa yang dia katakan, mungkin karena pengaruh alcohol atau obat-obatan.

    Setelah itu, segalanya berkembang dengan cepat. Bono menjadi sering mendatangi saya, seolah-olah saya adalah teman lamanya yang hilang. Tentu saja sangat mengganggu terutama kalau sudah bergabung dengan saya yang saat itu sedang duduk bersama kawan-kawan di kantin. Kemudian dia mengoceh panjang lebar, mengulang-ulang bahasan tentang rencananya yang ingin memburu harta pejabat korup yang disimpan di Bank Swiss. Buat saya, terserah dia mau ngomong apa, itu urusannya, asal kalau sedang dekat saya, jangan suka menyentuh rambut atau tangan saya. Itu sudah melewati batas yang membuat saya merasa tidak nyaman.

    “Jangan pegang-pegang,” kata saya, tegas, sambil menyentakkan tangan saya ke belakang. 

    “Jangan marah dong.”

    “Nyentuh lagi, aku hajar!”

    Mungkin ada orang yang baik-baik saja diperlakukan seperti itu, tapi kayaknya kebanyakan gadis pasti akan memberi perlawanan dan saya baru saja melakukannya.

    Selain itu, Bono juga tidak sopan. Dia pernah menutup mata saya dengan kedua tangannya dari arah belakang, terus minta ditebak siapa dia. Saat itu dia mungkin berpikir dia adalah manusia paling romantis yang masih hidup, tapi menurut saya kurang ajar, jadi, saya marah dan Bono pergi setelah saya usir - tanpa bersikap kejam. Wajahnya cemberut, seolah-olah sayalah yang salah. 

    “Amer dilawan?” Kata Indri setelah Bono pergi. 

    Amer yang dimaksud Indri adalah saya. Beberapa orang di sekolah, memang ada yang memanggil saya Amer - singkatan dari nama: Ancika Mehrunisa Rabu. Mereka mengatakannya sebagai lelucon, untuk mengacu pada Amer yang dikenal oleh umum sebagai singkatan Anggur Merah. Itu semacam minuman bermanfaat untuk kesehatan, yang sering disalahgunakan untuk mabuk-mabukan.

    “Saya memang haram!” Kata saya ke Indri. 

    “Ha ha ha”

    “Kecuali kalau udah dinikah …” Kata saya lagi sambil mengangkat kedua alis. 

5

    Momen puncaknya, terjadi pada tanggal 14 Februari 1995, di mana saat itu saya sedang belajar di kelas. Tiba-tiba muncul Bono dari balik pintu kelas yang dia buka. Awalnya dia terlihat ragu, tapi kemudian masuk ke kelas dengan kantong kresek di tangannya untuk alasan yang sama sekali belum diketahui.

    “Permisi, Pak, ” kata Bono membungkuk sopan ke Pak Yusuf yang sedang duduk di kursinya.

    Pak Yusuf, mengerutkan dahinya. “Ya?” Tanya Pak Yusuf.  

    “Ada titipan dari ketua OSIS, buat Cika, ” jawab Bono.

    Dan saya harus mengatakan saya terkejut. 

    “Rek naon si eta?” Tanya Indri ke saya, berbisik.

    “Gak tau, “ jawab saya, pelan. 

    Setelah mendapat izin dari Pak Yusuf, Bono berjalan menuju bangku saya, yang posisinya berada di deretan keempat dari depan. 

    Saat Bono sudah berdiri di samping meja saya, dia mengeluarkan satu buket bunga mawar dari dalam kantong kresek yang dibawanya. Adakah yang pernah mengalami masalah serupa?

    Kemudian dengan suara yang sangat pelan, hampir berbisik, Bono menyerahkan bunga mawarnya ke saya: “Selamat hari Valentine!” Katanya dengan suara gemetar, sambil sedikit membungkuk dan senyum di wajahnya. 

    Saya hanya seperti, 'apa-apaan ini?’ 

    Di saat itu, orang-orang di kelas sudah saling berbisik dan bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan oleh Bono.

    “Apa, ah!’ Jawab saya, mengabaikan, sambil terus menulis. 

    “Terima dong!” Kata Bono, memohon dengan sedikit mendesak. 

    “Gak suka bunga!” 

    “Sukanya apa?” Tanya Bono, masih dengan suara pelan.

    Saya mulai merasa jengkel karenanya dan menjawab dengan suara agak keras, “Gak suka apa-apa!” 

    Saya dapat melihat seluruh orang kemudian memandang ke arah saya. Pak Yusuf bangkit dari kursinya:

    “Ada apa?” Tanya Pak Yusuf, menyilangkan kedua tangannya ke belakang, sambil berjalan mendekat.

    Bono menjadi gelisah; karena situasi tampaknya berubah menjadi buruk. Wajahnya hampir pucat dan menjadi seperti orang bodoh yang bingung mencari tempat sembunyi. 

    “Ini, Pak, “ jawab saya ke Pak Yusuf, dengan nada tegas. “Ngasih hadiah valentin!” 

    Maaf kalau saya melakukan itu, tapi saya benar-benar perlu melepaskan diri darinya. 

    “Apa yang kamu lakukan di sini?” Tanya Pak Yusuf ke Bono, terlihat sangat kesal. Sebelum Bono dapat mengatakan apa-apa, Pak Yusuf bicara lagi, “Gak tau waktu!” 

    Terdengar sedikit kesal dan tidak ada lagi yang dikatakan oleh Pak Yusuf selain itu. Bono bergegas pergi meninggalkan ruangan di bawah pelototan mata Pak Yusuf.  Itu adalah hal paling konyol yang pernah dia lakukan ke saya. 

    “Si Gelo!” kata Indri, berbisik.

    “Nih, buat kamu!” kata saya dengan suara pelan, memberikan bunga valentine yang diletakan begitu saja oleh Bono di atas meja.

    “Ya, udah, “ kata Indri, “buat Mamih di rumah.”

    “Bilang ke Mamih selamat hari Valentine dari Bono!” Kata saya ke Indri, setengah berbisik.  

6

    Siangnya, di kantin sekolah, saya duduk berdua dengan Indri, menikmati batagor dan teh panas.

    “Sebetulnya Bono tuh cakep. Anak orang kaya lagi. Sayangnya nakal, “ kata Indri. 

    Saya diam, seperti malas membahasnya.

    “Kalau baik, “ kata Indri lagi, “kamu pasti mau, ya?”

    “Enggak, “ jawab saya sambil terus makan batagor, “saya gak suka pacaran.”

    “Kenapa?” Tanya Indri.

    “Saya gak suka jadi milik seseorang, “ kata saya.

    “Egois dong?” 

    “Saya lebih suka kalau tubuh saya dipake untuk penelitian sains, “ jawab saya. 

    “Ha ha ha”

    “Lebih berguna, kan?”

    “Ah, teuing, ah”

    “Pacaran tuh ribet!”

    Indri tidak langsung merespon, karena sedang minum.

    “Ngerepotin, “ kata saya lagi. 

    “Ya, sih.”

    “Si itu juga, siapa itu?” Kata saya. “Ria, ya?”

    “Ria mana?”

    “Itu …. yang tiap hari mesra, berdua terus kemana-mana.”

    “Oh, si Ria?”

    “Kamu lihat, kan, nempel terus? ”

    “Iya.”

    “Tau-taunya, putus. Sampai si Rianya diopname, “ kata saya. “Cinta macam apa itu?”

    “Iya, gitu?”

    “Gak tau, sih. Pokoknya pacaran mah ribet. Banyak nuntut ini itu. Mending kalau kita dikasih nafkah.”

    Terus terang saja, saya tidak terlalu suka dengan ide pacaran. Saya lebih ingin fokus pada sekolah dan meraih cita-cita yang saya inginkan. Setidaknya saya harus fokus belajar untuk siap menghadapi ujian EBTANAS, atau mengerjakan pekerjaan rumah yang banyak.  

    Saya masih ingin bisa bepergian dan melakukan apa pun yang saya suka. Dan semua itu tidak akan bisa dicapai kalau saya harus mempertimbangkan orang lain, terlebih lagi kalau orang itu merepotkan dan cemburuan. 

    Saya masih ingin mendapatkan tempat dalam hidup di mana saya bisa menetapkan standar hidup saya sendiri. Tidak perlu melapor kepada pacar kalau mau tidur. Tidak perlu melapor ke pacar kalau mau berpergian, tidak perlu menyesuaikan perilaku saya agar sesuai dengan keinginannya. Tidak ada yang akan menilai saya kecuali saya sendiri. Tidak akan ada yang kecewa kecuali saya sendiri. Itu akan terasa bebas dan ringan jadinya 

    “Kamu sendiri kenapa gak pacaran?” Tanya saya ke Indri.

    “Kalau saya tuh bimbang, euy.”

    “Bimbang apa?”

    “Bimbang antara sayanya mau ke si Dudi, dengan si Dudinya yang enggak mau ke saya!’

    “Ha ha ha!” 

    Dudi yang dimaksud oleh Indri adalah ketua OSIS. Indri sering bilang ke saya bahwa dia naksir Dudi, tapi Indri tidak bisa berbuat apa-apa, karena Dudi lebih memilih Nana, gadis tercantik di sekolah dengan rambut model Shaggy Bob sebahu dan pernah menjadi model sampul majalah remaja.

    “Kalau kata saya mah, kamu sama si Dudi itu, mau sama mau!” Kata saya ke Indri. 

    “Ngarang!”

    “Iya, kamu mau ke si Dudi, si Dudi mau muntah! Hahahaha!”

    “Gelo, siah!”

    Tidak lama kemudian, datang Santika, Lilis dan Epon, bergabung dengan kami. Mereka semua satu kelas dengan saya. 

    “Tadi si Bono ngapain sih?” Tanya Epon.

    “Jual bunga!” Jawab saya.

    “Nyatain, ya?” Tanya Lilis.

    “Unik, ih!” kata Santika.

    “Unik, apa?’ tanya saya.

    “Unik aja, “ jawab Santika. “Nyatain di kelas, gitu loh, pas belajar! Mana ada yang gitu.” 

    “Itu, mah, mengganggu!” Kata saya, “bukan unik!”

    “Harusnya tadi tuh, Si Bono, ngasih bunganya ke kamu!” Kata Indri ke Santika, “pasti diterima!”

    “Enggak lah, “ jawab Santika. “Aku udah punya!” 

    “Pacar?”

    “Bunga, “ jawab Santika ketawa, “banyak di depan rumah!”.

    Jadi, itulah beberapa cerita tentang apa yang sudah Bono lakukan ke saya. Sejujurnya saya sendiri bingung mengapa dia mau ke saya, padahal ada banyak gadis menarik di luar sana. Dan memang begitulah adanya. 



Klik untuk bersambung ke Bab II

Comments

  1. Akhirnya sekian taun menunggu cika pun datang

    ReplyDelete
  2. Nyiapin hati buat bacanya ๐Ÿ™ƒ

    ReplyDelete
  3. Mantap, ditunggu kelanjutannya wahai imam besar panasdalam ⚡⚡⚡

    ReplyDelete
  4. Sudah tidak sabar menunggu yang lengkap.

    ReplyDelete
  5. Ihh ayah bikin pengen cepet" beli bukunya

    ReplyDelete
  6. Mencoba sabar nunggu bukunya rilis, ayah ih jangan males nulis!!

    ReplyDelete
  7. Mantap yaah next Ayah Surayah

    ReplyDelete
  8. Ancika itu sepertinya Dilan versi cewek ya. Lanjut, Yah. Ditunggu juga bukunya. He he.

    ReplyDelete
  9. udah sekian tahun yah baru keluar

    ReplyDelete
  10. Lanjutin dong yah, nanggung.. Gak enak atuh nanggung-nanggung mah..

    ReplyDelete
  11. Update setiap hari yah...jangan nanggung...

    ReplyDelete
  12. Update setiap hari yah...jangan nanggung...

    ReplyDelete
  13. Mantaaapppp ayaaaahhhhhhhhhhhh,,,postingan berikutnya ntong lami-lami uhun ayyaahhhhhhh

    ReplyDelete
  14. wah jadi penasaran, lanjutin dong yahh

    ReplyDelete
  15. wah jadi penasaran, lanjutin dong yahh

    ReplyDelete
  16. Jodoh cerminan diri kah, yah?? Dilan versi cewek ini mah, sangar borrrrr

    ReplyDelete
  17. Nama kamu ancika yah?... boleh aku ramal wkwk jk

    ReplyDelete
  18. Lanjutt yahhhh , penasarannn bgttt��

    ReplyDelete
  19. Astagfirullahhh tanggung amattt ayah!!:'(

    ReplyDelete
  20. aaaaa yang ditunggu tungguuuuuu��

    ReplyDelete
  21. Gak bisa aku tuh di giniin wkkw lanjutkan yahhh

    ReplyDelete
  22. Ga sabar nunggu part selanjutnya

    ReplyDelete
  23. Keren ayah.. gak sabar nunggu kelanjutannya..

    ReplyDelete
  24. Keren ayah.. gak sabar nunggu kelanjutannya..

    ReplyDelete
  25. cikaaa sikap mu berani sekalii haha sama seperti dilan

    ReplyDelete
  26. Bakal nunggu kelanjutan nya

    ReplyDelete
  27. Nih sekian lama , nunggu akhirnya dapet bocoran karyanya ayah pidi , sukses terus ayah jangan lupa kumbangnya di sg in lagi biar ada yang nawar lebihmahal๐Ÿ‘Œ๐Ÿป๐Ÿ‘๐Ÿป

    ReplyDelete
  28. Saya doakan sehat terus ayah ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

    ReplyDelete
  29. Karakter konyol si Bono mirip konyolnya Dilan. Apa jangan-jangan Bono yg dimaksud itu Dilan ?

    ReplyDelete
  30. Ayahhh, pengen ikut meranin film dilan boleh?

    ReplyDelete
  31. Cocok ah... d antos kelanjutan na... cocok jang ngabuburit Puasa... Tadarus Ancika | Dia yang bersamaku Tahun 1995

    ReplyDelete
  32. Bono mirip Dilan yaaah wkwk, tp penasaran bgt sih Dilan kalo ketemu Cika gimana, inimah pasti Dilan yang manja ke Cika haha. Can’t wait!!

    ReplyDelete
  33. Ayah, pengen kaos Ancika dong

    ReplyDelete
  34. terimakasih ayah, aku orang yang malas membaca, tapi kalo baca novel ayah aku suka.

    ReplyDelete
  35. semangat berkebun nya yah, ditunggu lanjutannya ๐Ÿ™Œ๐Ÿป

    ReplyDelete
  36. Komenku di sini ayahhhh, pilih aku ayahhh

    ReplyDelete
  37. Ayah, pengen kaos Ancika dong

    ReplyDelete
  38. aku baca ini karena pengen baju nya wkwkwk

    ReplyDelete
  39. Ayah hobby buat orng penasaran ternyata, cepat cepat Up ya ayah! Kalau nggak aku ngamukk๐Ÿ˜ 

    ReplyDelete
  40. Yah, sehat terus, panjang umur dan banyak uang�� Aamiin

    ReplyDelete
  41. Ditunggu kelanjutannya yaahh, udah gak sabar

    ReplyDelete
  42. aku baca ini karena pengen baju nya wkwkwk

    ReplyDelete
  43. Cewe dilan gada yang gagal emang, si cika ini keren

    ReplyDelete
  44. Kenapa nama panjangnya, ujungnya harus Rabu? Bukan Minggu yah? Wkwk

    ReplyDelete
  45. Assalamualaikum bismiah pleasee lanjutt ...

    ReplyDelete
  46. Maaf yah typo bismillah hrusnya duh ๐Ÿ˜…๐Ÿคฆ๐Ÿพ‍♂

    ReplyDelete
  47. Teu sabar nungguan lanjutanna yah

    ReplyDelete
  48. keren yahhhh,pasti ayah dan ibu ayah bangga

    ReplyDelete
  49. Ancika dirumah nya ada kebun ga ya ...

    ReplyDelete
  50. Yeayy akhirnya yang ditunggu muncul

    ReplyDelete
  51. Penokohan kaka amer karakter nya tipis” dilan, semoga jodoh wkwkkw

    ReplyDelete
  52. Ceritanya selalu bikin candu, Semangat nulisnya ayah, ditunggu kelanjutannya

    ReplyDelete
  53. Ayah mau aku belikan apa biar semangat nulis novel nya?
    Jangan dikebun terus, kan udah ada yang jagain pake senapan.

    ReplyDelete
  54. Ayah ancika terbitnya kapan ya? Soalnya saya sudah lama ingin membaca versi cetaknya

    ReplyDelete
  55. Ayah, lanjutkan lagi ayah, aku sudah membaca semua buku yang ayah tulis

    ReplyDelete
  56. Ayah mau aku belikan apa biar semangat nulis novel nya?
    Jangan dikebun terus, kan udah ada yang jagain pake senapan.

    ReplyDelete
  57. Ayah ancika terbitnya kapan ya? Soalnya saya sudah lama ingin membaca versi cetaknya

    ReplyDelete
  58. Ayah ancika terbitnya kapan ya? Soalnya saya sudah lama ingin membaca versi cetaknya

    ReplyDelete
  59. Ayah pidi baiq, adalah sosok yang karismatik, tulisan nya membuat para pembaca menimbulkan candu minat membaca menjadi tinggi, contohnya ada pada diriku

    ReplyDelete
  60. Dapet ilmu baca, pasti dapet baju juga ni, hehehe

    ReplyDelete
  61. Keren ayah, semoga cepat ada lanjutannya, gak sabar bangettt buat bacaa๐Ÿ˜ฌ๐Ÿ”ฅ

    ReplyDelete
  62. Bagus kok yah lebih bagus lagi
    kalo dikasih bajunya, hahaha

    ReplyDelete
  63. Asikkk, segera di lanjut ayah enggak mau tau pokoknya cepet heheh

    ReplyDelete
  64. Ayah, please, semangat lagi menulis nya, aku mau membaca versi novel yang sudah dicetak ayah. Semangat selalu dan tetap riang ayah.

    ReplyDelete
  65. aku kira bono itu sama seperti dilan, eh taunya bukan:)

    ReplyDelete
  66. Janji kalo ke kebun ayah tanganku di borgol, dan gabakalan nego deh tanaman ayah soalnya bikin nya susah cuman allah yang bisa bikin, iya ga yah iya deh yah oke kan.

    ReplyDelete
  67. Novelnya bagus, itu jga kata yg komen, saya belum baca biar penasaran

    ReplyDelete
  68. Aaaaaahhh bakal.seru nih
    Ditunggu tanggal terbitnya ayahh!!

    ReplyDelete
  69. Ayahh awalanya aja udah menarikk..memang ayah adalah penulis yg membuat kita serasa masuk dalam cerita . sehingga sampe ke pembaca

    ReplyDelete
  70. perkenalan dengan sosok ancika masih singkat tapi karakternya menarik, ayo lanjutin ayah๐Ÿ˜ญ

    ReplyDelete
  71. Ayah, lanjut lagi sambungan nya, udah gak sabar membaca nih

    ReplyDelete
  72. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ancika asal kau tau ayah pidi yang mengispirasi ini membuat aku pupuiran kota bandung naik sepeda sendiri sambil tulis" pengalaman ban bocor ,lirik lagu untuk band ku yang ga tampil" karna covid sama narasi cinta yang terhalang beberapa kota , sampe" aku nulis ,
      jangankan jarak

      Barisan abjad namamu dan namaku saja sudah terhalang oleh beberapa huruf.

      Apalagi benih rindu yang kutampung sedemikian banyak?
      Kesimpulan dari semua itu , waktulah yang menyurutkan semuanya

      bukan pertemuan.

      -FI666O

      Maaf curhat:(
      Pokonyamah sukses buat ayah pidi semoga cepet muncul untuk beberapa bab yang lagi di garapnya
      ๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ‘๐Ÿป

      Delete
  73. Akhirnya keluar juga ini novel terus yang lebih menyebalkan kenapa pas bertemu dilan baru bersambung? Mao bikin penasaran ya ayah paraah

    ReplyDelete
  74. Betul kata ayah, menulis itu mudah yang susah kemauan dan menyeting mentalnya. Ceritanya mah biasa cuma cara menjadi menarik dibacanya itu yang susah ๐Ÿ˜, keren yah ๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    ReplyDelete
  75. Btw bono kayaknya zodiaknya aries deh. Emng ga cocok aja sama acika yg pisces

    ReplyDelete
  76. Betul kata ayah, menulis itu mudah yang susah kemauan dan menyeting mentalnya. Ceritanya mah biasa cuma cara menjadi menarik dibacanya itu yang susah ๐Ÿ˜, keren yah ๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    ReplyDelete
  77. Gak sabar Gustii... baca kelanjutan cerita Ancika. Semangat Ayah... semangat nulisnya, semangat bagi2 rejekinya. Meskipun udah ada di blog, pasti bakal tetep beli bukunya. Ditunggu segala galanya yah.

    ReplyDelete
  78. Pokona ayah ending na kudu di Lembang seperti ini " akhirnya dilan dan milea memilih untuk berkebun di Lembang dan menghabiskan masa tua nya sampai liang lahat, masukan dari aku itu mah ya ayah

    ReplyDelete
  79. Pokona ayah ending na kudu di Lembang seperti ini " akhirnya dilan dan milea memilih untuk berkebun di Lembang dan menghabiskan masa tua nya sampai liang lahat, masukan dari aku itu mah ya ayah

    ReplyDelete
  80. Bab II ny bkin penasaran yah ๐Ÿ˜

    ReplyDelete
  81. Ayah saya pake ukuran L yah hehe

    ReplyDelete
  82. Jujur belom bisa Move On dari Lia tapi bagaimapun lia adalah bagian dari masa lalu, masa masa dimana lia manusia terbahagia didunia tapi ya pertemuan pasti ada perpisahan dan namanya perpisahan tidak ada yang baik baik saja jujur gak sabar
    cara Dilan mendapatkan hati ancika

    ReplyDelete
  83. siapa yang di sini comen gara gara kaos acika:v

    ReplyDelete
  84. Terimakasih ayah, Terimakasih membuat kami jadi tidak sabar lagi! Asyiik!!

    ReplyDelete
  85. Lanjutkan ayah. Jangan malas ya yah buat nulis novel mah harus rajin. Segera terbitkan bukunya

    ReplyDelete
  86. Lia dan ancika adalah orang yang paling bahagia didunia karena bisa diperjuangkan oleh Dilan sang peramal

    ReplyDelete
  87. Huaaah semangat Ayah, gak sabar banget kepingin bacaaaaa :"

    ReplyDelete
  88. Ayah ganteng banget novel nya juga keren2!! Bismillah kaos anchika!!

    ReplyDelete
  89. Mungkin karena tahun ceritanya seumuranku dulu dan lokasinya di bandung jadi serasa nostalgia yah... sedih...

    ReplyDelete
  90. Mantap yah, ditunggu lanjutannya :)

    ReplyDelete
  91. Bunganya kurang segar di mata amer tu om pidi haha

    ReplyDelete
  92. Lanjutkan atuh yah, gasabar banget

    ReplyDelete
  93. Ancika dia yg bersamaku tahun 1995, trus yg bersamaku tahun 2021 teh siapa yah?

    ReplyDelete
  94. Aku tunggu cilok pedasnya yah. Jangan tanggung2. Lanjutin

    ReplyDelete
  95. Gak sabar tayang di bioskop dan gak sabar cara Dilan mendapatkan hati ancika

    ReplyDelete
  96. Semangat ayah.. ditunggu lanjutannya ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  97. Lanjutinnn yahhh... Jadi pengen jadi orang Palembang pertama yang pake baju ancika :v

    ReplyDelete
  98. Seni adalah totalitas jika tidak lebih Baik Lebih baik tidak nah eta ayah sabar kalo ancika banyak mencoret coret novel ayah karena itu adalah totalitas

    ReplyDelete
  99. keren, yah. lanjutkan. oiya, hapalan Qurannya udah sampai mana, yah? hehe. bismillah kaos ancikaaa��

    ReplyDelete
  100. Yahh banyak kesini karena ada undi kaos ancika maaf Yah saya suudzonan

    ReplyDelete
  101. Terima kasih ayah, gak sabar nunggunya

    ReplyDelete
  102. Yu selesai'in sampe bab 1000 yuuuu semangat ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†

    ReplyDelete
  103. Dapet salam dr pak RT yah,novelnya bagus katanya

    ReplyDelete
  104. Ayah surayah memang gadak obat!!!

    ReplyDelete
  105. Bismillah semoga jadi alhamdulillah aja dehh

    ReplyDelete
  106. Bagus cerita nya , semoga rejeki ayah bertambahh banyak berkah dan sehat selalu, aamiin ��

    ReplyDelete
  107. Mantapp lanjut terussss yahhh , jangan lupa bahagia yah

    ReplyDelete
  108. ayah mana pernah ngecewain sih kalo buat beginian mah, semangat ayah! peluk cium jauh dari aku, muach��

    ReplyDelete
  109. Ok komen lagi , bismillah dapet kaos ancika , jadi bisa di barter sama kumbangnya ayahh

    ReplyDelete
  110. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  111. Gak sabar pgn baca dari bukunya langsung!! HaHaHaHa
    Btw, Ayah memang terbaikk!!๐Ÿฅฐ

    ReplyDelete
  112. Masukan dari saya, bahwa preview nya kurang banyak. 2 bab aja tanggung yah. Tapi udh bagus kok udh kebayang. Ukuran M yahh !

    ReplyDelete
  113. Dengan ini hakim memutuskan untuk menyegerakan ayah pidi lanjukan lagi post novel amernya ( Ancika Mehrunisa Rabu ).

    ReplyDelete
  114. Bab 1 udah bagus banget, jadi pengen berkunjung ke kebun ayah huhu, bismillah kaos ancika nya aku satu. Aamiin ya allah

    ReplyDelete
  115. Lagi seru seru nya baca yah, eh ada kata bersambung

    ReplyDelete
  116. ayah selalu hebat kalo bikin novel, ditunggu rilis yah.

    ReplyDelete
  117. Jadi pengen baca novelnya sambil pake baju ancika yahh

    ReplyDelete
  118. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  119. mantap yah sukses terus, di tunggu movie nya.
    kata kata saya buat ayah pidi baiq.

    Bandung kota kembang, i love bandung yg selalu ada dan tidak akan tiada meskipun diriku telah tiada.

    -widi baiq

    ReplyDelete
  120. Keren euy ayahhh, cika seperti namakuuuu๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

    ReplyDelete
  121. eh kereeeeeen! memantul petrus jakandor alias memang mantap betul pepet terus jangan kasih kendor ๐Ÿ‘ฟ

    ReplyDelete
  122. Penasaran banget kelanjutannya, Yah �� kira-kira cara Dilan deketin Cika kek apa, ya. Apa pakek ramal-ramalan kek Milea dulu atau langsung lamar-lamaran ���� ehh.

    ReplyDelete
  123. Siap menunggu yah! Semangat, ulah waka tani heula wkwkwk

    ReplyDelete
  124. Karakter Ancika seperti perempuan independent tapj sekalinya pacaran pasti clingy & kinky. Hahaha.

    ReplyDelete
  125. cikaaa sikap muu berani sekali. ak tau kamu memang tidak takut bono atau yang lain karna kamu cuma takut sama Allah

    ReplyDelete
  126. Aku, setuju sih, Cika sama Dilan, ga papa lah ya, sudah qodratnya, mungkin. Sayangnya, aku belum diberi kepercayaan sama Allah, untuk menghirup oksigen di zaman itu. Tapi, tak apa, aku masih bisa menikmati ceritanya, dengan mataku, dan dengan imajinasiku, yang sebenarnya menduga-duga.
    Terima kasih ya Allah, sudah menciptakan, Ancika, Dilan dan Ayah, sehingga, aku jadi tahu, bahwa Ancika dan Dilan pernah ada dibumi. Dan di Bandung, Jawa Barat.

    ReplyDelete
  127. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  128. Ancika hebad, tubuh nya mau buat penelitian udah kaya kodok aja... di tunggu lanjutan nya ayah

    ReplyDelete
  129. Aku ga suka sama Bono, dia ga solat 5 waktu.

    ReplyDelete
  130. cika-cika coklat asli dicampur mede gurih, cika-cika bikin happy, cika-cika coklat enaknya selangit... cika cika..

    ReplyDelete
  131. Beruntung sekali anak mu, Yah. Orang banyak bisa dapat 'Ducle et Utille' apalagi dia. Mantap Ayah:)

    ReplyDelete
  132. Astaghfirullah, barusan baca sedikit novel ancika. Hrs nya baca Alquran ayahh

    ReplyDelete
  133. Cepat keluar dong bukunya yah udah punya 3 buku dilan tinggal nunggu ini biar complittttt wkwkw

    ReplyDelete
  134. Semoga ga ada yg nyuri dikebun ayah, biar ayah Pidi bisa fokus nulisnya..

    ReplyDelete
  135. Maafkan aku jika aku adalah org terburuk yg pernah kamu temukan.

    Aceh 9 . Apr . 2021

    ReplyDelete
  136. Baru baca helen dan sukanta yah hhh ditunggu rilisannya

    ReplyDelete
  137. membaca buku 1990 dan 1991. membuat saya belajar untuk melihat orang dari samping, depan, atas, bawah , bahkan dari sudut 45,3. hanya untuk mengenal seseorang tanpa perlu mendengar tentangnya.

    entah apa yang akan saya dapat dari buku ini........., saya menantikannya.

    ReplyDelete
  138. Baru baca helen dan sukanta yah hhh ditunggu rilisannya

    ReplyDelete
  139. Ga sabar pengen nonton filmnya

    ReplyDelete
  140. Ayah aku gamau banyak komen, karena kehidupan ku juga belum bener, untuk kaos aku tetap berharap kepada allah biar dapet

    ReplyDelete
  141. ayah ganteng bangettt

    bismillah kaos ancikaa

    ReplyDelete
  142. Sama seperti novel novel terbitan ayah sebelumnya ayah menuliskan novel ini sama dengan kepribadian ayah yang absurd banyak kata yang membuat cengar cengir sendiri tapi itu menjadi suatu hal yang positif kita sebagai pembaca tidak mudah bosan dengan novel yang disajikan pokonya ayah sehat terus biar bisa lanjutin buat novel nya teh.


    sekian dari saya : yudhisthraa




    Brebes. 09.04.2021

    ReplyDelete
  143. Nuhun, Yah, kaosna. Nuhun heula we, husnudzhon

    ReplyDelete
  144. Kesan absurdnya khas ayah banget nih. Keren ayah!, apalagi kalo ayah ngasih kaos ahaha. Ditunggu rilis resminya yah!

    ReplyDelete
  145. Ayah, ini aku ikutan komen cuma karna ingin baju Anchika. Udah itu aja.

    ReplyDelete
  146. Disini saya ingin menyalahkanayah pidi baiq karenanya saya kepo dengan kelanjutannya��

    Di tunggu yahh kelanjutanya
    Kudu segera

    ReplyDelete
  147. Disini saya ingin menyalahkanayah pidi baiq karenanya saya kepo dengan kelanjutannya๐Ÿคฃ

    Di tunggu yahh kelanjutanya
    Kudu segera

    ReplyDelete
  148. Disini saya ingin menyalahkanayah pidi baiq karenanya saya kepo dengan kelanjutannya๐Ÿคฃ

    Di tunggu yahh kelanjutanya
    Kudu segera

    ReplyDelete
  149. Gak suka baca novel karena cuma tulisan yg panjang2 dan ngebosenin, tapi novel tulisan si ayah mh bener2 beda, serasa saya ada di dlem ceritanya. Ga sabar nunggu PO novelnya ๐Ÿ˜ƒ

    ReplyDelete
  150. Ancika tentunya menjadi warna baru, dan menyenangkan. Tapi ancika juga membuatku susah tidur, karena menunggu launching si novel.
    Pkoknya semangat terus buat ayah pidi, dan jangan lupa menyiram tomat juga strawberry. Semoga aku bisa membantu saat panen hahaha

    ReplyDelete
  151. Ancika kayaknya lebih galak dari pada milea

    ReplyDelete
  152. ga sabar sama kelanjutan nyaa:) , semangat ayah!❤

    ReplyDelete
  153. Assalamualikum ayah, izin, siap, lapor aku udah baca ni, walau cuman ampe bab 2. Aku hanya ingin berkomentar sebagaimana layaknya netizen. Dan menyatakan perasaan ku setelah membaca ini kepada ayah, bahwasannya " AMER NYA KACAU walau baru dikasih tau dikit ceritanya". Udah ya. Itu aja yah. Kurang lebih nya mohon maaf. Wslam wr wb...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts